Abstract
Penerjemahan jenggotan adalah istilah penerjemahan yang ada di pesantren. Dalam penerjemahan ini, penerjemah mengartikan setiap arti kata bahasa sumber. Secara teoritis penerjemahan jenggotan mempunyai peranan penting dalam proses penerjemahan, sekurang-kurangnya memberikan gambaran bahwa penerjemah yang baik harus peka terhadap arti tiap kata. Tapi secara praktek, hal tersebut sulit untuk dibuktikan. Bahkan muncul sebuah anggapan bahwa penerjemah dengan metode jenggotan akan kesulitan dalam menerjemahkan teks secara bebas. Hal inilah yang menjadi alasan utama perlunya penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah kemampuan santri yang berlatar belakang penerjemahan jenggotan dalam menerjemahkan teks berbahasa Arab secara bebas. Adapun rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Data penelitian yang berupa skor diambil dari 21 responden. Sedangkan cara yang digunakan untuk memperoleh data tersebut adalah tes terjemah. Instrumen penelitian yang digunakan untuk menjaring data dalam penelitian ini adalah seperangkat tes terjemah yang terdiri dari tiga materi, yaitu Fiqih, Akhlaq, dan Tarbiyah. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik statistik, yaitu dengan cara menentukan rata-rata keseluruhan skor dari hasil tes.
Hasil analisis data menunjukkan hal-hal sebagai berikut.
(1) Skor rata-rata keseluruhan dari tes terjemah dengan materi Fiqih adalah 80,476. (2) Skor rata-rata keseluruhan dari tes terjemah materi Akhlaq adalah 82,584.
(3) Skor rata-rata keseluruhan dari tes terjemah materi Tarbiyah adalah 84,625.
(4) Skor rata-rata keseluruhan skor hasil tes terjemah adalah 82,562.
Dengan demikian diketahui bahwa rata-rata total dari skor hasil tes terjemah adalah 82,562. Berdasarkan PAP (Patokan Acuan Penilaian) angka tersebut termasuk dalam skala baik sekali. Berdasarkan hasil ini, berarti kemampuan santri yang berlatar belakang jenggotan dalam menerjemahkan teks berbahasa Arab secara bebas adalah baik sekali.
Berdasarkan uraian tersebut, saran-saran yang dapat diberikan adalah (1) para santri diharapkan dapat mempertahankan dan meningkatkan kemampuannya dalam menerjemahkan, (2) para santri dan pengajar diharapkan dapat mengembangkan kegiatan penerjemahan yang telah ada. Pengembangan tersebut dapat melalui metode-metode penerjemahan. Metode penerjemahan yang telah ada lebih dikembangkan dan dianekaragamkan. Kemudian materi-materi yang menjadi bahan penerjemahan dikembangkan ke arah yang lebih luas dan beragam sesuai dengan perkembangan zaman.
